Kesepian

Rasa Kesepian
Kesepian berbeda dengan sendirian, sebab ada
orang yang kesepian tatkala dia sedang bersama
dengan orang-orang lain, bahkan di tengah
anggota keluarganya.
PENGKHOTBAH 4 : 9 – 11 — “ Berdua lebih baik dari
pada seorang diri, karena mereka menerima upah
yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau
mereka jatuh, yang seorang mengangkat
temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak
mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!
Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi
panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat
menjadi panas?”
Penulis kitab Pengkhotbah ini adalah raja Salomo
yang nyaris tidak pernah sendirian, sebab istri dan
gundiknya saja ada seribu orang. Namun Salomo
merasa seorang diri, merasa kesepian. Kesepian
yang dibicarakan Salomo ini juga bukan
menyangkut urusan seks. Yang dimaksudkan
Salomo dengan berdua lebih baik dari pada
seorang diri adalah manusia tidak dapat hidup
sendirian, harus ada sahabat yang menemani.
Sahabat ini adalah orang yang dapat dipercaya
untuk menikmati hasil jerih payahnya, bisa anak,
pasangan, teman. Sayangnya, Salomo tidak
mempercayai satu orang pun istri dan gundiknya
yang totalnya seribu orang, sebab dia tahu, mereka
itu dia “beli” untuk menjadi istrinya. Akibatnya,
Salomo kesepian.
Menerima upah yang baik dalam jerih payah
bermakna dapat menikmati hasil jerih payahnya.
Hal itu dapat terjadi bila seseorang memiliki
sahabat untuk dapat menikmatinya bersama.
Sebanyak apa pun harta yang dimiliki, jika tak ada
sahabat yang dapat menikmati hasil jerih
payahnya, itu akan menjadi bad reward. Hasil jerih
payah Salomo adalah dia mampu menamai
binatang-binatang, pohon-pohonan, namun para
istrinya tak ada yang mampu untuk diajak sharing
dengan hasil jerih payahnya ini.
Salomo merasa semua temannya, termasuk para
istrinya mengecewakannya. Bayangkan seorang
raja yang memiliki segalanya, merasa tidak ada
orang yang mampu menolongnya. Manusia
memang memiliki keterbatasan; terkadang
menolong dirinya sendiri saja tak mampu, apalagi
menolong orang lain. Mau menolong pun suatu
saat tidak mampu menolong kita. Sebenarnya
manusia memang tak mampu mengangkat orang
lain yang jatuh, sebab tiap-tiap orang memiliki
masalah sendiri. Misalnya saja dokter, yang pada
satu titik tidak dapat menolong pasiennya yang
jatuh kesehatannya. Hanya TUHAN YESUS
KRISTUS, Sahabat sejati yang mampu menolong
kita saat kita jatuh, baik jatuh dalam iman,
kesehatan, ekonomi, atau jatuh dalam hal apa pun
juga.
Kesepian yang mendera Salomo ini diakibatkan dia
tidak lagi hidup berdasarkan Firman TUHAN; raja
yang dikaruniai hikmat TUHAN ini mulai
mengandalkan kekuatannya sendiri, jauh dari
Sahabat sejatinya.
“Tidur berdua menjadi panas” dalam ayat 11
bukan membahas masalah seks. Merasa sendirian
membuat hidup manusia tak lagi merasakan
suasana yang penuh kehangatan (dalam
terjemahan NIV: warm). Saat mulai berbaring
untuk tidur, saat tidak ada kegiatan, mulailah dia
diingatkan akan kebutuhan (suasana) kehangatan.
Itulah sebabnya banyak night club, sebab orang
mau menghindari waktu tidur untuk melupakan
dinginnya hati yang sepi.
PENGKHOTBAH 4 : 8 — “ ada seorang sendirian, ia
tidak mempunyai anak laki-laki atau saudara laki-
laki, dan tidak henti-hentinya ia berlelah-lelah,
matanya pun tidak puas dengan kekayaan; untuk
siapa aku berlelah-lelah dan menolak kesenangan?
Inipun kesia-siaan dan hal yang menyusahkan.”
Salomo tidak sendirian, namun merasa sendirian
dan kesepian (all alone). Itu dirasakannya saat dia
di tempat tidur. Cukup mencengangkan jika dari
seribu istri dan gundiknya, Salomo boleh dikata
tidak memiliki anak laki-laki; hanya ada seorang
anak laki-laki yang dimilikinya. Salomo juga tidak
memiliki “saudara laki-laki”. Siapakah Saudara Laki-
laki kita? YESUS KRISTUS. DIA adalah Kakak sulung
kita, dan kita adalah adik-adik-NYA. Saat kita jatuh
dalam dosa, Saudara Laki-laki kita itu yang
mengangkat kita. Dengan memiliki YESUS KRISTUS
sebagai Saudara Laki-laki, hati kita akan selalu
dihangatkan oleh TUHAN, tak ada suasana beku
seperti yang dirasakan oleh Salomo.
Salah satu ciri orang yang kesepian adalah tak
henti-hentinya berlelah-lelah, yang dalam bahasa
modernnya disebut workaholic. Itu hanya solusi
semu dalam mengatasi kesepian. Saat bekerja, dia
dapat melupakan sejenak kesepiannya itu, namun
saat tidur tiba, rasa kesepian itu kembali hadir.
Sampai akhirnya Salomo mempertanyakan dirinya
sendiri, untuk siapa dia bekerja keras ? Bukan
untuk siapa-siapa, sebab para istrinya tak mampu
menjadi sahabatnya untuk bersukacita menikmati
jerih lelahnya itu.
Ciri lainnya adalah mata yang tak pernah puas.
Hati-hati bila kita tak puas-puasnya mengelilingi
mal, tak puas-puasnya menggosipkan orang lain.
Ini adalah ciri orang kesepian; dia tidak puas
dengan dirinya dan berusaha menyeret orang lain
untuk senasib dengan dia. Seandainya Salomo
tetap bersahabat dengan TUHAN, dia tak akan
merasa sia-sia hidupnya.
KEJADIAN 24 : 1 — “ Adapun Abraham telah tua
dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam
segala hal.”
Tokoh Alkitab lainnya yang tidak kita sangka akan
kesepian adalah Abraham. Ayat di atas menuliskan,
bahwa Abraham diberkati TUHAN dalam segala hal,
dia bukan orang melarat. Dan meskipun sudah tua,
Abraham bukan orang yang sakit-sakitan. Namun,
kematian Sara membuat Abraham menjadi pribadi
yang kesepian.
KEJADIAN 23 : 1 – 2 — “ Sara hidup seratus dua
puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara.
Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu
Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang
meratapi dan menangisinya.”
Berbeda dengan Salomo, Abraham mampu berbagi
dengan Sara sampai akhir hidup Sara. Namun
sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, di
usia 127 tahun Sara meninggal dunia dan tak
mampu mendampingi Abraham lagi. Kematian
Sara diratapi Abraham, karena dia merasa Sara
adalah sahabatnya yang mampu menopangnya
saat dia jatuh. Meninggalnya Sara ini meninggalkan
ruang kosong bernama “kesepian” di hati
Abraham. Abraham sungguh-sungguh mencintai
Sara. Rasa cinta Abraham kepada istrinya itu
membuat Abraham tidak mau menerima
pemberian tanah secara gratis sebagai kuburan
Sara, Abraham membayar tanah itu.
KEJADIAN 24 : 67 — “ Lalu Ishak membawa Ribka
ke dalam kemah Sara, ibunya, dan mengambil dia
menjadi isterinya. Ishak mencintainya dan
demikian ia dihiburkan setelah ibunya meninggal.”
Apa yang dilakukan Abraham untuk menepis
kesepiannya itu ?
Dia menikahkan Ishak. Jadi pernikahan Ishak ini
bukan inisiatif Ishak, tapi Abraham menyuruh
Eliezer, asisten kepercayaannya, pergi ke tanah
kelahiran Abraham untuk mencari istri bagi Ishak.
Tujuannya agar kemah Sara kembali terisi. Pada
zaman itu, kemah tempat tinggal suami dan istri
terpisah; mereka memiliki kemah masing-masing.
Mungkin saja saat Sara masih ada, Abraham tidak
selalu tidur bersama Sara, namun Abraham tidak
merasa kesepian. Begitu Sara meninggal, kesepian
baru melanda Abraham.
Sukseskah cara Abraham untuk mengembalikan
suasana hangat sepeninggal Sara ? Ternyata yang
terhibur hatinya adalah Ishak yang saling
menghangatkan suasana dengan istrinya.
Sedangkan bagi Abraham, kesepian tetap menjadi
teman setianya.
KEJADIAN 25 : 1 – 2 — “ Abraham mengambil pula
seorang isteri, namanya Ketura. Perempuan itu
melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan,
Midian, Isybak dan Suah.”
Menikah merupakan cara lain bagi Abraham untuk
mengusir kesepian. Bukti kesehatan Abraham
masih oke adalah dia masih mampu menikah dan
memiliki enam orang anak dari Ketura, istrinya.
Apakah cara ini mampu mengusir kesepian ? Tidak.
Memiliki pacar atau menikah bukan jaminan
seseorang tidak lagi kesepian. Pernikahan Abraham
dan Ketura ini bukan atas dasar cinta, bukan untuk
saling menolong, tapi hanya sebagai pengusir
kesepian. Cara ini sama sekali tidak efektif untuk
mengusir kesepian.
KEJADIAN 25 : 5 – 8 — “ Abraham memberikan
segala harta miliknya kepada Ishak, tetapi kepada
anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-
gundiknya ia memberikan pemberian; kemudian ia
menyuruh mereka-masih pada waktu ia hidup-
meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke
sebelah timur, ke Tanah Timur. Abraham mencapai
umur seratus tujuh puluh lima tahun, lalu ia
meninggal. Ia mati pada waktu telah putih
rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia
dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.”
Pernikahan dengan Ketura bukan hanya tak
mampu mengusir sepi, bahkan menimbulkan
keruwetan dalam usia tua Abraham. Abraham
sampai merasa perlu memberikan warisan kepada
Ishak saat Abraham masih hidup, tentunya karena
anak-anaknya dari Ketura ini berpotensi
menimbulkan masalah bagi Ishak. Anak-anak hasil
perkawinan dengan Ketura ini disuruhnya pergi
menjauhi Ishak, untuk pergi ke sebelah Timur.
Dalam Alkitab, “Timur” berarti gambaran orang-
orang berdosa, orang-orang majus yang datang
dari Timur gambaran orang berdosa yang mau
mencari YESUS KRISTUS.
Salah satu anaknya dari Ketura bernama Midian,
yang kemudian menjadi bangsa Midian. Orang
Midian adalah orang yang membeli Yusuf dari
kakak-kakak Yusuf untuk dijual sebagai budak di
Mesir. Akibat kesepiannya, keturunan Abraham
yang satu dengan yang lain saling jual beli sebagai
budak dan saudagar budak.
Tercatat saat terakhir kali Abraham berbicara
dengan TUHAN pada saat usianya kira-kira 112
tahun, saat TUHAN mengujinya untuk
mempersembahkan Ishak. Lulusnya Abraham
dalam ujian iman itu membuatnya menyandang
predikat “Sahabat ALLAH” Yakobus 2 : 23 — “
Dengan jalan demikian genaplah nas yang
mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada
ALLAH, maka ALLAH memperhitungkan hal itu
kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu
Abraham disebut: “Sahabat ALLAH.”
Demikian pula pada masa-masa sebelumnya,
kendati mengalami pasang surut kehidupan,
antara lain lari ke Mesir karena kelaparan, Abraham
menjalin komunikasi dengan TUHAN. Namun di usia
tuanya sampai Abraham meninggal di usia 175
tahun, tidak tercatat lagi ada komunikasi antara
Abraham dengan TUHAN. Itulah yang
menyebabkan Abraham mengalami kesepian.
YOHANES 14 : 18 — “ AKU tidak akan
meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. AKU
datang kembali kepadamu.”
Janji YESUS KRISTUS bagi kita sungguh indah :
TUHAN YESUS tidak akan meninggalkan kita
kesepian bak yatim piatu. Setelah YESUS KRISTUS
naik ke Sorga, ROH KUDUS sebagai Sahabat setia
akan selalu berada di hati kita jika terus menjalin
komunikasi yang intens dengan TUHAN YESUS.
Dengan demikian rasa kesepian itu tak kan datang
dan tak kan membuat hari-hari kita kelabu, Amin.
TUHAN YESUS Memberkati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s