AWAS!!!

Awas! Kopassus dan BIN Turun
Tangan!
Strategi dan aksi guna
memenangkan pasangan Prabowo
Subianto-Hatta Rajasa kini semakin
mengerikan. Setelah sebelumnya
beredar informasi mengenai kucuran
dana puluhan triliun rupiah dengan
sasaran pemilih di Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Jawa Timur kini beredar
informasi terbaru.
Sumber: operasi
Informasi terbaru itu adalah
Kopassus dan Badan Intelijen Negara
(BIN), secara bersama-sama, saat ini
sedang menggelar sebuah operasi
“senyap” yang akan mempengaruhi
hasil Pemilihan Presiden pada 9 Juli
2014 yang hanya tinggal 3 hari lagi!
Operasi “senyap” ini tentu saja
bertujuan untuk memastikan
kemenangan Prabowo Subianto di
Pemilihan Presiden. Sebetulnya
operasi ini sempat terganggu dengan
munculnya pemberitaan bahwa
Prabowo menghina Gus Dur yang
dibarengi dengan kemunculan
spanduk-spanduk yang
menggambarkan penghinaan
Prabowo tersebut. Pemberitaan dan
spanduk tersebut dipandang sangat
merugikan Prabowo, sehingga
dengan segera oknum anggota
Kopassus secara “senyap” pula
menyisir spanduk-spanduk tersebut,
mencopot dan membawanya.
Nah, bagaimanakah operasi
“senyap” tersebut di atas dijalankan?
Informasi yang beredar, ada
beberapa metode yang digunakan,
yaitu: kecurangan di bilik suara, aksi
kekerasan jalanan, ancaman
terhadap pendukung Joko Widodo,
dan yang terparah adalah
penghilangan nyawa orang bila
diperlukan. Metode-metode ini
terdapat dalam panduan “taktik dan
teknik teror” yang wajib dikuasai
oleh anggota Kopassus dan Intelijen.
Kecurangan di bilik suara bukan
menyasar tabulasi suara di tingkat
pusat melainkan penghitungan suara
pada tingkat TPS sampai dengan
penghitungan tingkat Kota /
Kabupaten. Cara mencuranginya
adalah dengan membayar aparat-
aparat pemerintah yang mengawal
kotak suara atau dengan
menempatkan agen yang juga
menjadi anggota KPPS. Upaya ini
akan difokuskan di Jawa Tengah,
Barat, dan Timur, namun bukan
berarti provinsi lain sama sekali tidak
tersentuh operasi ini. Dana untuk
membayar aparat-aparat pemerintah
dan “pihak lain yang dianggap perlu”
ini didistribusikan oleh Kopassus dan
BIN.
Operasi “senyap” ini dijalankan oleh
para komandan senior Kopassus
walaupun mereka berusaha
menutupi keterlibatan Danjen
Kopassus saat ini, Jendral Agus
Sutomo. Namun sumber memastikan
bahwa Kepala BIN saat ini, Marciano
Norman, teribat penuh dalam operasi
“senyap” yang bersifat jahat ini serta
meng-klaim bahwa operasi ini telah
mendapat persetujuan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
dan dikoordinasi langsung oleh
Prabowo Subianto.
Selain mencurangi penghitungan
suara, operasi ini juga digelar
dengan bentuk aksi kekerasan
jalanan dan ancaman terhadap
pendukung Joko Widodo. Agen-agen
sipil binaan Kopassus ditugaskan
untuk membuat keributan di akar
rumput. Caranya dengan
mengerahkan massa bayaran untuk
menyerang pertemuan-pertemuan
pro Joko Widodo. Massa bayaran ini
bekerjasama dengan “milisi-milisi
jalanan” binaan Prabowo Subianto
yang telah mendapatkan pelatihan di
Bogor. Taktik ini merupakan taktik
umum yang sering digunakan oleh
Kopassus/BIN. Taktik umum itu
ditambah lagi dengan panduan baku
lainnya berupa telepon atau sms
anonim yang mengancam sasaran
yang dituju atau orang-orang
terdekatnya dengan ancaman
kematian, atau hal-hal buruk lainnya
(misalnya: disiksa dulu sebelum
dibunuh, diperkosa, atau dimutilasi).
Metode terakhir adalah penghilangan
nyawa seseorang bila diperlukan.
Kemungkinan besar metode ini tidak
akan menyasar orang-orang penting
dari kubu Joko Widodo namun tidak
menutup kemungkinan untuk orang-
orang di tingkat bawah yang dikenal
sebagai pendukung Joko Widodo
atau yang mengkoordinasinya.
Eksekusi dari metode ini tidak akan
dijalankan oleh agen sipil melainkan
oleh oknum Kopassus langsung.
Agen sipil yang masuk jejaring
binaan Kopassus meliputi berbagai
macam profesi mulai dari wartawan
surat kabar lokal dan stasiun-stasiun
televisi, staf hotel, Pegawai Negeri
Sipil (PNS), pekerja seni, sopir pada
perusahaan rental, tukang ojek,
penjaga kios pulsa handphone,
mahasiswa, hingga anak sekolah
tingkat menengah.
Dengan jejaring seperti ini, Kopassus
dengan mudah melakukan
pengintaian dan siapa pun dapat
menjadi target intai. Bisa jadi, bila
anda dinilai mengganggu operasi
“senyap” ini serta dianggap
“melawan”, maka siap-siaplah di
eksekusi. Berdoalah Joko Widodo
menang dalam Pemilihan Presiden
agar moncong-moncong pistol
dengan peredam itu dapat kembali
ke sarungnya.

Sumber :
m.kompasiana.com/post/read_comment/666691/2/awas-kopassus-dan-bin-turun-tangan.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s